INFO CANDIREJO
  • 3 minggu yang lalu / Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447H – Mohon Maaf Lahir dan Batin
Dari Kebun Hingga Meja Makan

Dari Kebun Hingga Meja Makan

Oleh : candirejo - Kategori : Artikel / Desa Candirejo / Solo Tour
27
Mar 2026

Cooking Class di Candirejo: Cerita Manis Pasangan Asal Spanyol yang Belajar Masak Tradisional Jawa

Sebagai pengelola Desa Wisata Candirejo, saya berbagi cerita tentang pengalaman unik pasangan suami istri asal Spanyol yang mengikuti cooking class. Didampingi pemandu lokal dan ibu lokal sebagai instruktur, mereka belajar metik sayur, memarut kelapa, hingga memasak gudangan, sayur lodeh, dan tempe goreng.

 

Oleh: Pengelola Desa Wisata Candirejo /Koperasi Desa Wisata Candirejo

Candirejo Borobudur Magelang – Sebagai pengelola Desa Wisata Candirejo, saya sudah biasa menerima kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Tapi ada satu pengalaman yang baru-baru ini benar-benar membekas di hati saya—ketika sepasang suami istri asal Spanyol datang dan memilih untuk mengikuti cooking class bersama ibu warga lokal.

Mereka datang bukan sekadar untuk melihat, tapi untuk merasakan langsung kearifan kuliner Jawa dari akarnya. Dan saya beruntung bisa menyaksikan sendiri bagaimana kebudayaan lokal kami mampu menyentuh hati wisatawan dari benua seberang.

Menyambut Tamu dari Negeri Spanyol

Pagi itu, saya bersama pemandu lokal desa sudah bersiap menyambut kedatangan pasangan tersebut. Kami tahu mereka berasal dari Jerman dan baru pertama kali berkunjung ke Candirejo.

“Selamat datang di Desa Wisata Candirejo,” sapa saya dalam bahasa Inggris, dibantu pemandu lokal yang juga fasih berbahasa asing.

Pasangan itu—sebut saja Hans dan Maria (bukan nama sebenarnya)—menyambut dengan senyum hangat. Mereka tampak antusias. Dari percakapan awal, saya tahu mereka sudah lama ingin mencoba pengalaman kuliner tradisional yang unik.

“Kami sangat suka masakan Indonesia. Tapi kami ingin belajar cara membuatnya secara tradisional,” ujar Hans antusias. Saya pun mengantar mereka bersama pemandu lokal menuju lokasi kegiatan, di mana ibu warga lokal sudah menanti dengan senyum khas Candirejo.

 

Petualangan di Kebun: Memetik Sayur untuk Pertama Kali

Kegiatan pertama yang saya saksikan adalah saat Hans dan Maria diajak ke kebun warga. Pemandu lokal desa menemani mereka, sesekali menerjemahkan arahan dari ibu-ibu instruktur. .

“Bayam ini akan kita petik ya, Bu. Nanti untuk sayur lodeh dan gudangan,” jelas ibu instruktur dalam bahasa Jawa halus, lalu diterjemahkan oleh pemandu.

Saya melihat Maria sangat bersemangat. Ternyata ini adalah pengalaman pertama baginya memetik sayur langsung dari kebun. Dengan hati-hati, ia memetik daun bayam hijau yang masih basah oleh embun pagi.

Hans pun tak kalah antusias. Ia justru terlihat sangat teliti, memilih daun-daun yang paling segar. “Di Spanyol, kami beli sayur di supermarket. Ini pengalaman yang sangat berbeda dan menyenangkan,” kata Maria sambil tersenyum lebar.

Pemandu lokal desa ikut tertawa kecil. “Ini namanya mramban, Bu. Di Candirejo, kalau mau masak ya ambil dari kebun dulu.”

Saya memang sengaja berdiri agak jauh, membiarkan mereka menikmati momen tanpa merasa diawasi. Ada kebanggaan tersendiri melihat wisatawan asing begitu menikmati kearifan lokal yang sederhana.

 

Momen Seru: Memarut Kelapa dengan Alat Tradisional

Setelah sayur terkumpul, tibalah bagian yang paling seru—memarut kelapa. Alat parut tradisional sudah disiapkan. Hans dan Maria tampak penasaran.

“¿Qué es eso?” gumam Hans dalam bahasa Spanyol, lalu pemandu lokal menjelaskan bahwa ini adalah alat parut kelapa tradisional yang sudah digunakan sejak puluhan tahun lalu.

Hans maju pertama. Dengan sedikit canggung, ia mencoba memarut daging kelapa tua. Ibu instruktur tertawa ramah sambil memberi arahan.

“Pak, lebih ditekan sedikit. Biar cepat hancur,” ujar ibu instruktur.

Pemandu lokal segera menerjemahkan. Hans mengangguk dan mencoba lagi. Kali ini hasilnya lebih baik.

Maria pun tak mau kalah. Ia bergantian mencoba, meski agak kewalahan. Hans membantu memegangi alatnya. Mereka saling menyemangati, saling tertawa.

“Ini kerja berat ternyata!” celetuk Maria sambil tertap. Ibu-ibu pun ikut tertawa. Suasana menjadi sangat hangat. Saya melihat sekat bahasa dan budaya seolah luntur oleh tawa bersama.

 

Memasak Menu Tradisional dengan Bimbingan Ibu Lokal

Setelah kelapa selesai diparut, tibalah waktu memasak. Menu yang mereka buat adalah gudangansayur lodeh, dan tempe goreng. Tiga menu klasik yang menjadi pelengkap makan siang. Pemandu lokal desa dengan sabar menerjemahkan setiap petunjuk dari ibu-ibu instruktur. “Bumbu gudangan ini ada kencur, bawang putih, cabai, dan garam. Semuanya diulek sampai halus,” jelas ibu instruktur.

Maria terlihat sangat serius saat mengulek bumbu. Ia sesekali mencium aroma kencur yang khas.“Harum sekali. Aroma ini tidak ada di masakan Spanyol,” ujarnya.

Sementara itu, Hans mendapat tugas menumis bumbu untuk sayur lodeh. Aroma bawang dan cabai yang ditumis langsung semerbak memenuhi area dapur. “Sangat enak aromanya,” puji Hans.

Ibu instruktur dengan sabar membimbing mereka. Setiap kali ada pertanyaan, pemandu lokal langsung menerjemahkan. Proses memasak berjalan lancar dan penuh kehangatan.

 

Makan Siang Bersama: Wajah Bahagia dan Pujian untuk Masakan Indonesia

Setelah semua masakan siap, saya mempersilakan Hans dan Maria duduk di kursi dan meja sudah ditata dengan nasi hangat, gudangan buatan mereka, sayur lodeh, tempe goreng, dan lainnya.

“Selamat menikmati hasil masakan sendiri,” ujar saya. Hans dan Maria menyantap dengan lahap. Wajah mereka berseri-seri.

“Wah, ini enak sekali! Sayur lodehnya gurih. Ini pertama kali saya makan sayur lodeh buatan sendiri,” kata Maria antusias.

Hans pun tak ketinggalan memuji. “Tempe goreng ini gurih dan lembut. Di Spanyol ada tempe juga, tapi tidak seenak ini. Mungkin karena dibuat dengan tangan dan bahan segar?”. Ibu instruktur tersenyum mendengar pujian itu. Saya ikut bangga.

“Mereka sampai bilang kalau masakan buatan sendiri lebih enak,” celetuk pemandu lokal desa sambil tertawa. Momen itu terasa istimewa. Di tengah pedesaan Candirejo, kebudayaan lokal kami mampu membawa kebahagiaan bagi wisatawan dari benua seberang.

 

Peran Pemandu Lokal Desa yang Sangat Berharga

Dalam pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa pentingnya peran pemandu lokal desa. Mereka tidak hanya menjadi penerjemah bahasa, tapi juga jembatan budaya.

Pemandu lokal kami membantu menjelaskan:

  • Nama-nama bahan masakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris

  • Cara penggunaan alat tradisional

  • Filosofi di balik masakan Jawa (misalnya makna gudangan sebagai simbol kesederhanaan)

  • Kebiasaan makan masyarakat Candirejo

Tanpa pemandu lokal, komunikasi antara Hans, Maria, dan ibu instruktur pasti akan sulit. Berkat mereka, proses belajar memasak menjadi lancar dan penuh makna.

 

Mengapa Cooking Class Candirejo Cocok untuk Wisatawan Mancanegara?

Dari pengalaman Hans dan Maria, saya semakin yakin bahwa cooking class di Candirejo sangat cocok untuk wisatawan asing. Berikut alasannya:

1. Pengalaman unik yang tak terlupakan
Wisatawan asing bisa belajar langsung dari sumbernya—dari kebun hingga ke meja makan.

2. Didampingi pemandu lokal yang ramah
Pemandu lokal membantu komunikasi dan menjelaskan budaya Jawa dengan cara yang mudah dipahami.

3. Instruktur ibu lokal yang sabar
Ibu-ibu kami sudah terbiasa membimbing wisatawan asing. Mereka sabar dan hangat dalam mengajar.

4. Suasana pedesaan yang asri
Candirejo menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan. Cocok untuk wisatawan yang ingin melepas penat.

5. Menu yang ramah untuk lidah internasional
Gudangan, sayur lodeh, dan tempe goreng memiliki cita rasa yang tidak terlalu ekstrem, sehingga mudah diterima oleh wisatawan asing.

 

Kesimpulan

Melihat langsung kebahagiaan Hans dan Maria—pasangan asal Spanyol yang mengikuti cooking class di Candirejo—adalah salah satu momen paling membanggakan bagi saya sebagai pengelola.

Mereka datang sebagai wisatawan, tapi pulang dengan kenangan indah dan keterampilan baru. Mereka juga membawa pulang cerita tentang keramahan ibu lokal dan kehangatan Desa Wisata Candirejo.

Bagi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan pengalaman kuliner Jawa, saya pribadi merekomendasikan cooking class di Candirejo. Dengan didampingi pemandu lokal dan ibu instruktur yang ramah, pengalaman ini akan menjadi salah satu kenangan terbaik selama di Indonesia.

 

Info & Reservasi

📍 Lokasi               : Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
🌏 Cocok untuk   : Wisatawan domestik & mancanegara, pasangan, keluarga, rombongan
🍽️ Menu                 : Gudangan, sayur lodeh, tempe goreng, dan masakan tradisional lainnya
🧑‍🍳 Instruktur       : Ibu-ibu warga lokal yang ramah dan berpengalaman
🗣️ Pemandu         : Pemandu lokal desa yang fasih berbahasa asing

📞 Untuk informasi dan pemesanan cooking class, silakan hubungi pengelola Desa Wisata Candirejo.

0 Komentar

Kontak

WA / Telp

Ersyid   085799886714
Rifa       082121291941
Office   0293789675

Email

candirejo.eco_tourism@yahoo.com

Check Our FeedVisit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram

ALAMAT

Jl. Raya Candirejo, Sangen, Candirejo, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553

Map Lokasi

WHATSAPP