Aksi KKN UNS Kelompok 76 Olah Sampah Plastik Melalui Program BASMI di Desa Candirejo

Candirejo, Borobudur — Di tengah tantangan lingkungan global yang kini dikategorikan sebagai triple planetary crisis—mencakup krisis iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati—muncul sebuah narasi lokal dari Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dusun Sangen, yang secara administratif merupakan pusat pengelolaan pariwisata di wilayah tersebut, kini menjadi lokasi bagi implementasi ekonomi sirkular melalui program “Bahan Sampah Menjadi Inovasi (BASMI): Pot Serai”. Program yang diinisiasi oleh Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 76 Universitas Sebelas Maret (UNS) ini tidak sekadar menjadi kegiatan pengabdian masyarakat, melainkan sebuah manifestasi konkret dari bagaimana limbah anorganik yang menjadi beban rumah tangga dapat dimanfaatkan menjadi perisai alami terhadap ancaman kesehatan masyarakat, khususnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Sebagai wilayah yang bersinggungan langsung dengan aktivitas pariwisata masif di kawasan Borobudur, Desa Candirejo menghadapi tantangan ganda: menjaga estetika desa wisata sekaligus mengelola lonjakan volume limbah domestik. Salah satu lonjakan tersebut berupa limbah kemasan plastik sekali pakai berukuran besar, terutama galon air mineral berbahan Polyethylene Terephthalate (PET). Karakteristik PET yang non-biodegradable dan voluminous menyebabkan limbah ini seringkali berakhir dengan metode pembuangan yang tidak berkelanjutan, seperti pembakaran di pekarangan rumah yang melepaskan zat karsinogenik berbahaya atau pembuangan sembarangan yang berpotensi menyumbat drainase desa.
Program BASMI hadir untuk memutus siklus degradasi lingkungan ini dengan memperkenalkan konsep Circular Economy. Melalui pemanfaatan kembali (reuse) limbah galon bekas sebagai pot tanaman, mahasiswa KKN UNS Kelompok 76 berhasil “menyelamatkan” volume sampah plastik yang signifikan dari potensi pencemaran. Upaya ini selaras dengan target pengurangan sampah nasional yang diatur dalam Perpres No. 97/2017 tentang Jakstranas dan implementasi Extended Producer Responsibility (Permen LHK No. 75/2019), serta kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa.

Program BASMI dilaksanakan pada Rabu (21/1/2025), di Pendopo Kepala Dusun Sangen, merupakan sebuah transisi dari teori menuju praktik ekonomi inklusif. Sebanyak 19 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) terlibat aktif dalam proses konversi 20 buah galon bekas menjadi unit pot tanaman fungsional. Inovasi utama yang diajarkan adalah pembuatan pot self-watering atau sistem penyiraman mandiri yang menjamin efisiensi penggunaan air dan perawatan tanaman serai. Teknik pembuatan pot ini melibatkan serangkaian langkah sederhana, mulai dari pemilihan limbah galon hingga proses pemotongan yang sederhana menggunakan alat seperti cutter dan gunting. Integrasi kain kasa dan media tanam yang terdiri dari campuran tanah subur serta sekam bakar memungkinkan air terserap ke akar tanaman secara kapiler. Kegiatan ini secara langsung mengubah paradigma masyarakat yang sebelumnya menganggap galon bekas sebagai sampah tidak berguna menjadi bahan baku potensial yang memiliki nilai guna baru.
Tanaman serai (Cymbopogon citratus) dipilih karena memiliki segudang manfaat. Dari perspektif ilmiah, serai mengandung senyawa aktif sitronelal dan geraniol yang berfungsi sebagai pengusir nyamuk alami (repellent). Senyawa sitronelal bekerja dengan cara memutus reseptor penciuman nyamuk, sehingga mengganggu kemampuan vektor dalam mendeteksi keberadaan inang (manusia). Selain manfaat kesehatan sebagai repelen nyamuk, serai memberikan nilai tambah ekonomi dan kuliner bagi keluarga di Dusun Sangen. Tanaman ini merupakan bumbu dapur esensial dalam masakan Indonesia dan memiliki potensi besar untuk diolah lebih lanjut menjadi produk turunan bernilai tinggi, seperti minuman herbal (wedang serai), minyak atsiri, atau bahan lilin aroma terapi.

Pelibatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Sangen merupakan keputusan strategis mengingat peran sentral perempuan dalam manajemen rumah tangga dan kesehatan keluarga di pedesaan. Melalui program BASMI, KWT tidak hanya bertindak sebagai objek penerima manfaat, tetapi bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) bagi lingkungan sekitarnya. Area percontohan pot serai yang dibangun di Pendopo Kepala Dusun menjadi bukti visual komitmen warga terhadap konsep Eco-Tourism.
Peningkatan kapasitas KWT dalam budidaya tanaman multiguna membuka peluang ekonomi baru di masa depan. Serai yang ditanam dalam pot-pot daur ulang tersebut dapat diproyeksikan sebagai komoditas souvenir desa wisata atau bahan baku produk olahan yang mendukung pendapatan keluarga. Sinergi antara mahasiswa KKN, perangkat desa, dan KWT menciptakan modal sosial yang kuat, memperkuat citra Desa Candirejo sebagai desa wisata berkelanjutan yang mandiri dalam pengelolaan sampah.
Program ini diharapkan tercipta efek domino bagi dusun-dusun tetangga. Keberhasilan Dusun Sangen dalam mengubah limbah galon menjadi pot tanaman yang estetik diharapkan memicu replikasi inisiatif serupa di wilayah lain. Model pengelolaan sampah berbasis kreativitas ini membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur TPA di tingkat desa dapat diatasi melalui inovasi sederhana yang berorientasi pada kemanfaatan nyata bagi masyarakat.
________________
Artikel ini disusun oleh Alfi Hasib Hakim sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat KKN UNS Kelompok 76. Didukung penuh dan diterbitkan oleh Koperasi Desa Wisata Candirejo untuk kemajuan literasi digital desa.


















