Tradisi Saparan Candirejo, Upaya Merawat Akar Kebudayaan

Warga Candirejo mengikuti arak tumpeng Saparan dengan pakaian tradisional
Di tengah geliat aktivitas ekowisata khas perdesaan, Candirejo tidak ingin melupakan tradisi lokalnya. Pada 23–25 Juli 2026, pemerintah desa bersama masyarakat setempat gotong royong menggelar Saparan Perti Desa Candirejo. Sebuah festival kebudayaan yang hampir setiap tahunnya selalu hadir menyemarakkan bulan Safar atau Sapar—bulan kedua dalam kalender Hijriah maupun Jawa—di salah satu desa penyangga wisata terpenting kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang.
Saparan Candirejo bukan hanya sekadar festival budaya biasa, melainkan juga menjadi wadah untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam yang menghidupi, dan warisan-warisan pengetahuan leluhur yang masih lestari. Sebagai tradisi turun-temurun sejak lebih dari tiga perempat abad silam, Saparan bisa dibilang merupakan sebuah manifesto kebudayaan Desa Candirejo. Melalui Saparan, masyarakat tidak hanya mengungkapkan rasa syukur atas nikmat dan rezeki hasil bumi yang berlimpah, tetapi juga mengekspresikan diri lewat beragam kegiatan spiritual dan seni yang penuh filosofi.
Selama tiga hari beruntun, bentang alam Pegunungan Menoreh dan Sungai Progo yang mengapit desa ini seolah menjadi saksi, bagaimana pengetahuan lokal dan kebudayaan Jawa dilestarikan.

Tasyakuran bersama sebelum memulai tradisi Saparan
Harmoni Tradisi dan Religi
Mengusung tema “Mundhi Hasil Bumi, Nguri-uri Budaya, Muja Syukur Marang Gusti”, slametan genduri atau tasyakuran sederhana di rumah Kepala Desa Candirejo, Singgih Mulyanto, menjadi acara pembuka Saparan pada Kamis Legi (23/7/2026). Malamnya, KH. Fauzi Arkhan yang berasal dari Salatiga memimpin pengajian akbar, memberi siraman rohani dan kedalaman spiritual yang mengawali festival budaya tahunan ini.
Sebagaimana laiknya desa yang berbudaya, kesenian jathilan tentu menjadi atraksi yang paling dinanti. Pada dua hari beruntun dengan jadwal terpisah, tepatnya Jumat Pahing dan Sabtu Pon (24–25 Juli 2026), sanggar seni dari tiga dusun yang bertetangga—Butuh, Kerekan, dan Sangen—mempertontonkan pentas jathilan yang selalu disambut antusias oleh masyarakat.
Menurut Mualif Parmo, Ketua Panitia Saparan, setiap dusun memiliki pakem cerita dan kearifan lokalnya sendiri. Setiap dusun tersebut biasanya menampilkan cerita sejarah tentang Arya Penangsang, Diponegoro, dan Roro Jonggrang. “Jadi, memang ada kekhasannya [corak pakem dan gerakan] masing-masing,” katanya. Singgih Mulyanto menambahkan, jathilan merupakan sebuah wahana edukasi dan literasi sejarah Jawa yang sarat nilai-nilai luhur, sehingga harus dilestarikan.
Di sela-sela itu, Saparan juga menampilkan tradisi lawas berbasis spiritual lainnya yang berbasis religi, yaitu solawatan Jawa dan kembul bujono. Tradisi ini dikemas dalam bentuk acara solawatan untuk bentuk hormat dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dipungkasi dengan makan bersama dari tampah yang sama. Puluhan bahkan ratusan pasang tangan seketika melebur batas-batas status sosial. Tidak ada sekat, semua berkumpul dan menyatu dalam semangat paseduluran (persaudaraan), mengungkapkan rasa syukur yang sama atas hasil alam yang menghidup Candirejo.
Seperti umumnya Saparan di banyak daerah (khususnya Pulau Jawa), pentas wayang kulit semalam suntuk digelar sebagai acara pemungkas di pengujung hari terakhir. Bertempat di atas panggung bersahaja di depan balai desa, acara puncak yang menghibur sekaligus penuh refleksi tersebut membawa lakon “Sri Boyong” dengan dalang Ki Bayu Setiawan.
Khusus edisi Saparan kali ini, yang dipusatkan di area Gedung Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Candirejo, masyarakat desa maupun pengunjung umum dari luar desa tidak hanya melihat atraksi seni dan kegiatan religi seperti tahun-tahun sebelumnya. Panitia juga memberi fasilitas dan bantuan sosial lewat paket sembako dan khitan gratis kepada sejumlah keluarga kurang mampu. Kegiatan lainnya adalah mengadakan senam khusus ibu-ibu PKK dan lansia, seminar wirausaha, serta menggelar pasar murah untuk mendukung sirkulasi ekonomi lokal dari ratusan pelaku UMKM Desa Candirejo.

Pentas kesenian jathilan
Gotong Royong, Senjata Menghadapi Tantangan Pendanaan
Sebagaimana umumnya sebuah festival kebudayaan, apalagi di perdesaan, isu finansial merupakan tantangan tersendiri. Mualif Parmo tidak memungkiri jika untuk menyelenggarakan satu kegiatan besar seperti Saparan juga membutuhkan anggaran yang besar.
Di sinilah peran koperasi desa (yang mendapat manfaat dan keuntungan dari operasional ekowisata) serta gotong royong khas masyarakat perdesaan—melalui dukungan materi maupun non-materi—memberi andil besar. Semua bahu-membahu memastikan tradisi Candirejo terselenggara dengan baik.
“Alhamdulillah, [kendala pendanaan] bisa teratasi berkat kerja sama yang sangat cantik dari koperasi desa, pemerintah desa, dan warga. Semua mendukung kegiatan [Saparan] yang sangat bermanfaat ini,” jelas Mualif Parmo.
Ia juga menambahkan, sifat festival kebudayaan seperti Saparan adalah sebuah upaya akomodasi terhadap keinginan warga yang berbeda-beda. “Karena kegiatan di sini tidak hanya budaya saja. Yang ingin ngaji, kami siapkan pengajian [dan solawatan]. Yang ingin lihat kesenian, kami siapkan juga [jathilan dan wayang].” Kolaborasi generasi tua dan kelompok pemuda yang kompak turut menyukseskan tradisi Saparan di Candirejo.
Singgih Mulyanto menuturkan, saat merintis konsep desa wisata sejak medio 1990-an, pembentukan kelembagaan melalui koperasi desa memperkuat potensi sumber daya alam dan budaya, serta pemberdayaan masyarakatnya. Lewat koperasi, warga akan punya rasa memiliki, mendapatkan hak yang setara, dan merasakan langsung dampak ekonomi yang dihasilkan.
Di masa mendatang, Singgih Mulyanto berharap agar makna Saparan Candirejo melebihi fungsi seremonial dan pelestarian tradisi. Ia juga ingin Saparan menjadi wadah pembelajaran organisasi dan mendidik talenta muda sebagai generasi penerus.
Kelak, keberlanjutan ekowisata, Saparan, maupun kegiatan kebudayaan lainnya di Candirejo saling bersinergi dan terintegrasi. Tidak hanya mampu memiliki pendanaan mandiri—tidak bergantung sepenuhnya pada modal dari luar—tetapi juga bisa membantu dan memberi manfaat bagi warga desa yang membutuhkan. Secara tersirat, inilah wujud nilai-nilai luhur kebudayaan desa yang sesungguhnya.

Pesinden menghibur penonton saat pergelaran wayang kulit di hari terakhir Saparan
Kebanggaan yang Harus Dirawat
Sebagai salah satu pelopor desa wisata di kawasan Borobudur, Candirejo kenyang prestasi. Buah puluhan tahun menata ekosistem pariwisata berbasis masyarakat hingga menjadi desa wisata berskala internasional sudah banyak terlihat. Terbaru, Koperasi Desa Wisata Candirejo meraih penghargaan Bupati Magelang Awards 2026 untuk kategori “Wisata Kreatif dan Inovatif”.
Lima tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI menganugerahi Candirejo sebagai salah satu dari 7 (tujuh) Desa Wisata Mandiri Inspiratif se-Indonesia melalui ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Makna predikat tersebut adalah Candirejo sudah dianggap mampu beroperasi secara berkelanjutan tanpa tergantung pada dana pemerintah, sekaligus menjadi pionir dan inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.
Namun, gelimang prestasi tidak ingin melenakan pemerintah desa dan masyarakat Candirejo. Meskipun popularitas desa sudah mendunia, tetapi kebanggaan atas identitas budaya lokal yang melekat sepanjang hayat tidak boleh dilupakan. Kebanggaan inilah yang menjadi fondasi kunci terlaksananya Saparan maupun kegiatan-kegiatan kebudayaan lainnya di Candirejo.
Singgih Mulyanto mengungkapkan, setidaknya ada tiga alasan besar kenapa Saparan di Candirejo masih harus terus dilakukan.
Pertama, yang paling penting, melestarikan tradisi dan budaya yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah desa sebelumnya. Kemudian yang kedua, tradisi Saparan menjadi medium edukasi bagi generasi penerus. Harapannya, generasi muda terkini memiliki kemauan dan kesadaran untuk memelihara tradisi.
“Yang ketiga, tentunya kebanggaan pada tradisi dan potensi kebudayaan [Saparan],” tegasnya.
Dalam konteks desa wisata, Singgih Mulyanto menambahkan, Saparan lebih dari sekadar tontonan yang menarik buat wisatawan. Saparan adalah bentuk keputusan kebudayaan kolektif yang harus dihormati, serta saling berkomitmen untuk senantiasa nguri-uri atau merawatnya di tengah perkembangan zaman.
________________
Penulis: Rifqy Faiza Rahman.
Proofreader: Emmy Yuniarti Rusadi.
Foto-foto : Koperasi Desa Wisata Candirejo.
Didukung penuh dan diterbitkan oleh Koperasi Desa Wisata Candirejo untuk kemajuan literasi digital desa.


















